10 Sastra Indonesia Favoritku yang Kubaca di 2021

1. Ziarah, Iwan Simatupang

2. Jazz, Parfum, dan Insiden, Seno Gumira Ajidarma

"Betapa waktu begitu singkat". Waktu memang tak akan pernah cukup, Alina, tak akan pernah cukup untuk sebuah keinginan yang memang tidak mungkin terpenuhi, seperti begitu banyak cita-cita tersembunyi kita, yang barangkali akan tetap tinggal tersembunyi selama-lamanya. Barangkali kita hanya harus merasa semua ini sudah cukup, dan bersyukur karena kita sempat mengalaminya. Seperti bersyukur karena sempat mengalami saat-saat yang indah."

3. Saksi Mata, Seno Gumira Ajidarma

4. Senja di Jakarta, Mochtar Lubis

5. Jalan Tak Ada Ujung, Mochtar Lubis

6. Dari Hari ke Hari, Mahbub Djunaidi

7. Kelir Slindet, Kedung Darma Romansha

8. Ronggeng Dukuh Paruk, Ahmad Tohari

Bajus terenyak ke belakang dan amplop yang menggembung jatuh ke lantai. Gagap dia. Sulit baginya menerima kenyataan bahwa kemanusiaan kadang tidak lebih tebal dari kulit bawang.

9. Entrok, Okky Madasari

10. Cantik itu Luka, Eka Kurniawan

--

--

19. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Karina

19. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian.