Timbul

Malam itu langit Dukuh Sabumi menyala merah. Puluhan warganya berbondong-bondong menuju rumah kamitua dukuh sambil mengusung obor. Seorang dukun perempuan paruh baya bernama Midah di dukuh itu akan dieksekusi mati. Akibat praktiknya, selama seminggu lamanya seisi dukuh diliputi teror para arwah yang dicoba dibangkitkan kembali oleh Midah.

Kamitua Btara mendesis, seketika hiruk-pihuk warga memelan. Pancaran sinar obor yang menjilat membuat luka yang melintangi ujung dahi dan bibirnya terlihat jelas. Ia berjalan mengelilingi Midah yang tergantung terbalik dengan kedua tangan terikat. Seorang laki-laki meletakkan ember kosong tepat di bawah kepala Midah. Btara kemudian melangkah ke hadapan warga. Dengan suara yang menggelegar ia berkata, “Saudara-saudaraku, mulai malam ini teror di dukuh kita yang berharga akan berakhir.”

Gaduh haru terdengar dari kerumunan. Dukuh Sabumi melepas lega. Malam ini adalah kali pertama setelah seminggu dukuh Sabumi meringkuk tak berdaya. Para perempuan tak membiarkan anak mereka bermain di luar. Aktivitas dukuh berhenti pada pukul lima sore. Karena selepas azan magrib para arwah berkeliaran. Mereka menyesatkan setiap orang, mengetuk setiap pintu, dan yang paling ditakuti adalah saat wajah mengerikan para arwah timbul menembus dinding secara tiba-tiba. Ketika itu terjadi tidak banyak yang dilakukan Midah dan kedua anaknya--Maya yang berumur sembilan tahun, dan Praya yang berumur empat tahun--selain membenamkan kepala di selangkangan Midah.

Salah satu wajah timbul itu adalah Kana. Saudara sekaligus cinta pertama Midah di usia sebelas tahun. Midah melangkah menuju wujud timbul itu. Jari-jarinya meraba permukaan wajah Kana yang kosong tanpa ekspresi. Tangis pilu Midah pecah. Itu ekspresi sama yang dilihatnya ketika Midah mengubur mayat Kana seorang diri. Sebuah perpisahan tragis yang tidak dapat direlakan Midah bertahun-tahun kemudian.

Dendam. Midah memulai teror di Dukuh ini dengan tujuan membalaskan dendam dirinya dan para arwah yang mempunyai ikatan kuat dengannya semasa hidup. Midah menanggung perasaan ini bertahun lamanya, berakibat pada matinya separuh jiwanya. Midah berhenti bekerja di perkebunan. Saban sore ia mengunjungi kuburan dukuh di bukit, dan berbicara kepada mereka yang secara jasmani hanya berwujud kerangka, sebaliknya ia berhenti berbicara pada siapapun yang bernyawa kecuali kedua anaknya.

Pada suatu sore Maya berlari masuk setelah seorang remaja laki-laki mendatangi rumah mereka. “Mak, ada tamu menunggu emak!” panggilnya.

Di dalam bilik itu Midah sedang merapal mantra untuk pemanggil para arwah. Tangannya bergerak menggapai-gapai angin kosong. Kembang tujuh rupa menyelimuti sekujur tubuhnya. Bau kembang itu membaur dengan puluhan dupa yang menyala di sekelilingnya. Selama berminggu-minggu Midah terus berusaha memanggil arwah, dan hari ini ia berhasil memanggil arwah Kana datang ke rumahnya.

Arwah Kana sama sekali tidak senang dengan pemanggilan yang dilakukan Midah. Ia membenci pedukuhan ini. Terutama karena kamitua yang membunuhnya masih hidup dan memimpin dukuh. Tetapi Kana mengenal benar bagaimana Midah. Anak perempuan yang keras kepala. Tak akan menyerah sebelum membuahkan hasil.

“Kenapa kau baru muncul?” tanya Midah.

“Praktik yang kaulakukan sekarang membahayakan keselamatanmu, Midah,” jawab Kana lirih. “Bagaimana jika arwah jahat terpanggil karenamu?”

Kana memandang wajah Midah. Anak perempuan yang tangguh, mampu bertahan setelah melalui banyak penderitaan. Anak perempuan polos yang selalu memukau Kana dengan kesederhanannya. Dan anak perempuan itu sudah banyak berubah.

“Aku akan membalas dendam,” jawab Midah.

Kana terdiam. Dendam. Betapa luar biasa akibat yang dapat dilakukan sepotong kata pada mereka.

Beberapa hari kemudian terjadi hal yang menggemparkan di pedukuhan itu. Anak-anak dukuh Sabumi pontang-panting menuruni bukit. Apa yang dilihat anak-anak waktu itu adalah dua sosok berjalan beiringan di atas bukit. Awalnya tidak jelas siapa, namun seorang bocah laki-laki menunjuk salah satu sosok itu dan menjerit, “Itu Midah!”. Ia ditemani oleh seorang perempuan pelayan kamitua dukuh yang gantung diri dua puluh tahun lalu, Larasati.

***

Emak dan bapak Larasati telah mengabdi kepada kamitua seumur hidup mereka. Setelah keduanya meninggal, Larasati melanjutkan pengabdian yang ia percayai sudah digariskan dalam hidupnya. Kana, anak laki-lakinya yang ia lahirkan di umur enam belas tahun, sudah cukup dewasa untuk menjaga diri. Maka pada umur dua puluh sembilan tahun Larasati mulai mengabdi kepada kamitua dukuh baru, Btara Aryasatya.

Bara Aryasatya terpikat pada paras Larasati yang menonjol dibanding perempuan-perempuan dukuh lain. Larasati berkulit cokelat bersih dengan tanda lahir unik menyerupai pilinan akar bahar yang melingkar di selangka kirinya. Ia bertutur halus dan suaranya selembut embusan angin yang meniup-niup kulit.

Kamitua paruh baya itu berusaha meluluhkan Larasati dengan memberinya perlakuan khusus, dan menghadiahkan Larasati barang-barang yang tak bisa dibeli warga dukuh meski mereka bekerja seumur hidup. Tetapi Larasati tetap bersikap sama, menolak semua pemberian Btara.

Kemudian kabar simpang siur yang menyudutkan Larasati menyebar di penjuru dukuh. Selama berminggu-minggu Larasati menjadi orang terasing di lingkungan rumah kamitua dan dukuh.

“Mak,” panggil Kana pada Larasati yang berbaring membelakangi di atas lincak bambu pada suatu subuh. Kedua pipi perempuan ayu itu basah. Ia begitu hancur sepulang dari rumah kamitua Btara. Lelaki bajingan itu melecehkan Larasati di ruangan pribadi pelayan ketika Larasati lengah. Tangan besar Btara menyekap mulut, sementara kedua tangan Larasati dicengkeram. Saat itu Larasati merasakan puncak rasa sakit yang tak tertanggungkan. Dan rasa sakit telah meleburkan jiwanya. Mati, jiwa Larasati telah mati. Ia pulang tinggal cangkang.

Di sebelah Kana Midah menangis sejadi-jadinya. Hancur bersama Larasati. Perempuan yang mengasuh dan memberinya perlindungan sejak ia berupa seonggok orok rapuh dari tempat pembakaran sampah. Perempuan yang selalu menyediakan teteknya ketika ia merengek kehausan. Perempuan yang ia jadikan sebuah cermin untuk citra kemanusiaan, namun citra itu telah lenyap.

Pada pagi hari warga di pedukuhan itu berbondong-bondong menuju pohon beringin besar dekat pancuran mandi. Larasati tergantung di salah satu dahan yang dililit tumbuhan merambat. Para perempuan menjerit ngeri menyaksikan keadaannya. Lidah Larasati terjulur keluar. Matanya melotot lebar. Jari-jari tangan kanannya terkepal seperti sedang mengenggam sesuatu. Berakhirlah pergunjingan tentang Larasati di dukuh Sabumi. Warga pedukuhan cepat melupakannya.

Tetapi Kana dan Midah tak sekali pun lupa. Keduanya menjalani kehidupan yang sulit. Bermalam lamanya mereka meringkuk di dalam gubuk Larasati dengan perut kosong setelah umbi-umbian terkikis habis di belakang rumah. Tak seorang pun memberi Kana dan Midah pekerjaan karena takut tulah akan datang di dukuh Sabumi.

Akibat lapar yang tak tertahankan Kana mulai mencuri buah-buahan dan sayur-sayuran dari kebun milik kamitua Brata. Suatu malam saat ia akan pulang dengan hasil curian di tangan kirinya dan parang di kanannya, remaja itu melihat Brata duduk seorang diri di halaman belakang rumah. Di depan wajahnya asap rokok mengepul tebal.

Genggaman parang di tangan Kana menguat. Kana melangkah senyap di antara ilalang. Detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang dapat didengarnya. Ketika jarak antara keduanya hanya tiga puluh meter, Kana berlari sekuat tenaga menuju Btara. Parang dihempaskannya tepat di wajah kamitua itu. Seketika darah mengucur dari sayatan melintangi dahi sampai ujung bibir.

“Anak asu buntung!” hardik Btara. Ia terjungkal dari kursinya. Lalu Kana melangkah mundur. Wajahnya pasi. Di hadapannya berdiri sosok yang bukan lagi manusia. Btara seakan tak tergoyahkan. Ketika keduanya bertemu pandang, mata merah Brata menghujam Kana.

“Keluarga celaka!” Btara bangkit meraih parang yang berada di genggaman Kana, lalu menebas putus kepala remaja laki-laki itu dengan satu kali ayunan.

***

Btara mengasah parang. Bibir kamitua itu komat-kamit tanpa suara. Ketika jarak antara Btara dan Midah tersisa dua langkah Midah berteriak lantang, “Kalian warga Dukuh Sabumi lah yang harus menghabisi kamitua Btara!”

Seekor branjangan membuang tahi di depan teras rumah Midah meninggalkan bunyi ‘ctak!’. Maya bangkit memetik daun mangga di halaman lalu membersihkan tahi itu. Ia lalu memandang jauh ke arah barisan puluhan obor yang meninggalkan rumah kamitua Btara. Praya berlari menghampiri sang kakak. Kedua anak itu termangu di depan pintu menunggui Emak mereka.

Sehabis membasuh parang dan memerintahkan pembantu untuk membersihkan halaman Btara masuk ke kamarnya. Btara menyapu percikan darah yang mengotori bajunya melalui pantulan cermin Lelaki itu mengembuskan napas dalam-dalam. Ketika melepaskan ikatan kepala ia mendapati Larasati muncul di sampingnya dengan jari-jari Larasati berada di kedua sisi belikatnya. Btara menoleh ke samping, memandangi wajah Larasati yang bergairah. Bibir merah perempuan itu sangat memikat Btara.

“Larasati...,” panggil Btara lirih. Jari-jari Btara bergerak merengkuh pinggang ramping Larasati yang terbalut carik. Napas Btara memburu kala bibir Larasati begitu dekat di telinganya.

“Mas Btara,” bisik larasati lembut. Bibir Larasati mengecup ujung daun telinga Btara.

Btara semakin bernafsu. Kamitua itu meragap tubuh Larasati dengan beringas. Bibirnya dilumat kuat-kuat. Sementara Btara merasa melayang di awang-awang, Larasati menarik ikatan kepala yang telah melingkari leher Btara. Seketika lelaki itu limbung di hadapan Larasati. Mulutnya meraung meminta oksigen dan matanya melotot. Jari-jari Btara mencakar lengan Larasati yang berada di atas tubuhnya, namun tak cukup untuk menyelamatkannya dari maut.

Satu per satu wajah para arwah timbul di dinding, menyaksikan Btara merenggang nyawa. Sorot matanya memancarkan kengerian kepada wajah timbul Kana dan Larasati sampai akhir.

***

Di rumah khusus kamitua, tak satu manusia pun yang berani mengusik Btara di kamarnya. Maka, mayat Btara baru ditemukan setelah tubuhnya menyebarkan bau cairan busuk. Ia ditemukan dengan kedua tangan mencekik leher, dan luka memar di daerah sekitar tenggorokannya. Hal itu membuat ngeri warga pedukuhan, bahwa Btara mencekik dirinya sendiri setelah mengeksekusi Midah.

Ada dua liang yang digali di kuburan pedukuhan itu. Liang Btara dan Midah. Suara gaduh warga berasal dari arah liang Btara. Warga beramai-ramai bersimpuh sambil menciumi tanah kubur Btara. Jauh dari itu sepasang anak perempuan saling bertautan tangan menghadap kubur emak mereka. Air mata meleleh di kedua pipi Maya ketika ia menancapkan sepotong kayu yang ia bawa dari rumah sebagai nisan.

“Selamat tinggal, emak,” ucap Praya.

Sebelum benar-benar meninggalkan lingkungan perkuburan Maya menoleh ke belakang. Dengan latar belakang langit merah sepasang sosok berjalan beiringan menjauhi perkuburan, seorang perempuan dewasa dan seorang remaja laki-laki yang bergelayut pada lengan. Kemudian keduanya lenyap bersamaan dengan tenggelamnya matahari di balik bukit.

TAMAT

28 Mei 2021

Karina

--

--

19. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian.

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Karina

19. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata, menulis adalah bekerja untuk keabadian.